SEKOLAH, HARUSKAH…? BELAJAR, HARUS ITU!

OLEH  ABU ABDIRROHMAN AL BANTENI
Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc
 يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka Hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Q.S Ar-Rum (30 : 7).
Ayat di atas merupakan peringatan keras bagi orang yang hanya mementingkan urusan dunia sedangkan urusan akhiratnya dilupakan. Contohnya pada bulan-bulan ini, sebagian besar orang tua menyerahkan pendidikan anaknya kepada lembaga pendidikan yang berorentasi dunia belaka, sedangkan masalah aqidah, manhaj, adab dan keselamatan di dunia dan akhirat diabaikan.
Perhatiaan mereka hanya berfokus kepada sekolah yang bisa mengantarkan anaknya menjadi cerdas dan cepat dapat pekerjaan. Prinsip ini bukan hanya ada pada orang awan saja, tetapi tokoh agama dan da’i yang menggebu-gebu membela Islam lebih senang menyekolahkan anaknya pada lembaga pendidikan umum yang tidak jelas aqidah dan manhajnya daripada menyekolahkan anakanya di pesantren yang dikelola menurut Sunnah.
Bahkan mereka ragu dan waswas bila anaknya masuk pesantren karena tidak diterima  di sekolah umum. Mereka khawatir masa depan anaknya suram, tidak bertitelkan sarjana, tidak diterima sebagai pegawai negeri, tidak bisa mencari rezeki, dan alasan lainnya.
Inilah kondisi umat Islam pada umumnya, bahkan ada yang sampai hati memarahi anaknya dan tidak memberi  nafkah kepada anaknya bila mereka putus kuliah karena ingin mencari ilmu Dienul Islam di Pesantren, lantaran dianggap durhaka kepada orang tua. Mereka tidak mau bertanya mengapa anaknya keluar dari bangku kuliah. Bahkan bila hal itu terjadi pada putrinya, maka diusir dari rumah, apalagi jika memakai cadar atau hijab muslimah dituduhnya mengikuti aliran keras dan semisalnya, karena orang tua merasa hina dan malu kepada tetangga dan temannya.
Selanjutnya, agar kita tidak dikuasai oleh hawa nafsu yang selalu sesat dan menyesatkan, khususnya menghadapi keberadaan umat Islam berkenaan dengan dunia pendidikan, mari kita pelajari keterangan  ayat di atas sesuai dengan pemahaman ulama Sunnah dan mari kita telaah bagaimana seharusnya kita mendidik anak, agar menjadi yang shalih, bemanfaat untuk dirinya, orang tua dan umat.
TAFSIR AYAT SECARA UMUM
Memahami ayat menurut pemahaman ulama salaf sangat penting bagi setiap umat Islam yang ingin bersatu dan tidak berpecah belah, karena ahli bid’ah, orang musyrik, dan harakiyyin umumnya mereka tidak berselisih tentang berdalih al-Qur’an dan Sunnah, akan tetapi berselisih tentang rujukan memahaminya. Oleh karena itu, di antaraushul Ahli Sunnah  sebagaimana yang telah disebutkan oleh Iman Ahmad yang pertama ialah berpegang teguh kepada ilmu dan pemahaman shahabat Rasulullah (Lihat Ushulus Sunnah oleh Iman Ahmad hal. 25, tahqiq al-Walid an-Naser)
Adapun sebagian ulama Sunnah menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
            Ibnu Jarir rahimahullah berkata: “Allah mengkhabarkan: Orang yang mendustakan kebenaran berita Allah itu tahu, bahwa bangsa Romawi diberi kemampuan oleh Allah untuk mengalahkan kerajaan Persi, karena mereka memiliki kekuatan duniawi dan pengaturan ekonomi yang baik, akan tetapi bangsa ini lupa tidak memikirkan keselamatan dirinya besok pada hari kiamat.” (Tafsir ath-Thabrani 21/16)
            Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu Dienul Islam untuk kebahagiaan akhirat mereka (Tafsir Ibnu Katsir 3/428)
            Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata: “Adapun orang yang mengandalkan akalnya belaka serta sibuk dengan ilmu duniawi sehingga mereka berani berfatwa dan mengajar umat, mereka itu tergolong firman Allah di dalam surat ar-Rum (30): 7. Itu semua karena ambisi kenikmatan duniawi. Seandainya mereka bersedia hidup sederhana dan mengingat urusan akhiratnya, mau menasihati diri dan umat, tentu mereka akan berpegang teguh kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Rasul-Nya.” (Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali1/420)
            Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak takut neraka. Inilah tanda kehancuran mereka, bahkan dengan otaknya mereka bingung dan gila. Usaha mereka memang menajubkan seperti membuat atom, listrik, angkutan darat, laut, dan udara. Sungguh menakjubkan pikiran mereka, seolah-olah tidak ada manusia yang mampu menandinginya, sehingga orang lain menurut pandangan mereka adalah hina. Akan tetapi ingatlah! Mereka itu orang yang paling bodoh dalam urusan akhirat dan tidak tahu bahwa kepadaiannya akan merusak dirinya. Yang tahu kehancuran mereka adalah insan yang beriman dan berilmu. Mereka itu bingung karena menyesatkan dirinya sendiri. Itulah hukuman Allah bagi orang yang melalaikan urusan akhiratnya, akan dilalaikan oleh Allah dan tergolong orang fasik. Andaikan mereka mau berpikir bahwa semua itu adalah pemberian Allah dan kenikmatan itu disertai dengan iman, tentu hidup mereka bahagia. Akan tetapi lantaran dasarnya salah, mengingkari karunia Allah, tidaklah kemajuan urusan dunia mereka melainkan untuk merusak dirinya sendiri.” (Tafsir Karimir Rahman 4/75)
            Selaku orang tua yang mendapatkan hidayah dari Allah tentu akan mengambil faedahnya dari ayat di atas beserta keterangannya untuk menentukan sikap, ke mana anak disekolahkan? Dan agar menyadari bahwa kebahagiaan hidup bukanlah sebagaimana yang dibayangkan oleh orang secara umum dan bukan yang diimpikan oleh orang kafir yang tidak mau mengenal melainkan ilmu urusan dunia belaka.
PENJABARAN MAKNA AYAT
            Surat ar-Rum (30): 7 ini mendapat perhatian serius oleh ulama Sunnah. Karena itu, marilah kita menelaah fatwa mereka, agar kita dapat mengambil faedah untuk meluruskan tujuan hidup dan selamat dari siksaan-Nya.
            Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Mereka itu hanya pandai mencari rezeki, seperti kapan bercocok tanam, kapan mengetam dan cara menimbunnya, dan pandai membangun gedung yang mewah. Akan tetapi, mereka itu bodoh dalam urusan akhiratnya.” (Tafsir ath-Thabrani 21/23)
            Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Karena kepandaiannya dalam urusan dunia, dia mampu menimbang dirham di atas kukunya dan tahu berat timbangannya, akan tetapi dia tidak pandai mengerjakan shalat.” (ad-Durrul Mantsur 6/483)
            Mujahid rahimahullah berkata: “Orang kafir itu gembira karena perkembangan urusan duniawinya, akan tetapi mereka ingkar siksa kubur.” (Tafsir al-Qurthubi 15/235)
            Qatadah rahimahullah berkata: “Mereka hanya pandai dalam urusan perdagangan dan produksi serta cara memasarkanya.” (ad-Durrul Mantsur 6/483)
            Adh-Dhahak rahimahullah berkata: “Mereka hanya pandai membangun istana, membuat saluran sungai, dan ilmu bercocok tanam.” (Tafsir al-Qurthubi 14/7)
            Ibnu Khalaweh rahimahullah berkata: “Mereka itu pandai mengatur strategi hidup, akan tetapi ilmu dien dan beramal shalih mereka lupakan.” (Tafsir al-Qurthubi 14/7)
            Ikrimah rahimahullah berkata: “Mereka itu pemahat dan pembuat pelita.” (Tafsir ath-Thabrani 21/7)
            Abul Abbas al-Mubarrid rahimahullah berkata: “Kerajaan Persia itu pandai mengatur waktunya; pada saat angin kencang mereka beristirahat kerja, pada saat mendung tiba mereka berburu dan mengail, bila hujan tiba mereka menimbun air untuk minum dan bermain-main, bila matahari terang mereka bekerja untuk memenuhi hajatnya. “(Tafsir al-Qurthubi 14/7)
            Imam Syaukani rahimahullah berkata: “Mereka itu hanya mengetahui yang zhahir berupa kehidupan yang bathil. Sedangkan nikmat yang kekal dan murni untuk hari akhirnya tidaklah mau mereka mempelajarinya, bahkan mereka melupakannya.”(Fathul Qadir, surat ar-Rum(30):7)
            Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: Ada yang berpendapat: “Mereka itu dibisiki oleh setan untuk mengurusi urusan dunia saja.”(Tafsir al-Qurthubi 14/7)
            Imam Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ada yang berpendapat: “Mereka di dalam ayat ini adalah para dukun peramal yang memperoleh bisikan dari setan yang mencuri pendengaran dari langit untuk membohongi manusia.” (Tafsir ath-Thabrani 21/23)
            Sekian banyak keterangan yang disampaikan oleh ulama Sunnah ini menjelaskan konsep hidup orang kafir yang anti ilmu Dienul Islam dan beramal shalih, tidak percaya adanya hari pembalasan. Hidup mereka bagaikan hewan, waktunya hanya untuk mencari kesenangan dunia dan makan. Na’udzu billah min dzalik. Allah berfirman:
  يَعْلَمُوْنَ ظَهْرًا مِنْ اْلحَيَوَةِ الدُّنْيَاوَهُمْ عَنِ اْلأَخِرَةِ هُمْ غَفِلُوْنَ.
       …  Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad (47): 12)
            Umat Islam yang dimuliakan oleh Allah hendaknya menjauhi sifat orang kafir, dan tidak mengukur kebahagiaan semata-mata karena urusan dunia. Akan tetapi, orang yang berbahagia ialah orang yang mendahului dirinya dan keluarganya mempelajari ilmu iman dan taqwa sebagaimana dijelaskan di dalam surat al-Ashr, bahwa manusia yang beruntung ialah orang yang beriman, beramal shalih, saling berwasiat kepada kebenaran dan kesabaran.
            Musibah yang paling besar di dunia ini, sebagaimana yang kita saksikan, bukanlah karena dilanda kemiskinan harta, akan tetapi karena miskin ilmu Sunnah. Betapa banyak orang kaya tanpa ilmu dien, kekayaannya merusak dirinya, anak, dan keluarganya; bahkan merusak ekonomi masyarakat awam serta membendung jalan yang hak. Inikah kebahagiaan hidup? Memang sedikit orang yang menyadari atas kerugian dirinya dan keluarga bila mereka dilanda kemiskinan aqidah dan ibadah, akan tetapi mereka merasa rugi bila dilanda krisis ekonomi dan kesakitan badannya.
            Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: Ulama berkata: “Termasuk bencana besar, bila kamu melihat seseorang itu cerdas, tanggap, dan teliti ketika dilanda musibah urusan duniawinya, akan tetapi tidak merasa rugi bila kena musibah agamanya.” (Tafsir al-Qurthubi 14/8)
ILMU DAN MACAMNYA
Perlu kita bahas ilmu ini karena erat hubungannya dengan pendidikan anak.
            Al-Allamah ar-Raghib al-Ashfahani berkata: “Ilmu ialah mengetahui hakikat sesuatu, hal ini ada dua macam: (1)  mengetahui wujudnya sesuatu, (2) Menghukumi sesuatu itu ada atau tidak ada. Sedangkan dalil yang pertama seperti yang tercantum dalam surat al-Anfal (8) : 60 dan dalil yang kedua tercantum di dalam surat al-Mutahanah (60) : 10.” (Mufradat al-Fadhil Qur’an : 580)
Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Ilmu menurut bahasa adalah lawan dari jahil, yaitu mengetahui sesuatu dengan pasti. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana yang dikatakan para ulama ialah : ma’rifat(mengenal sesuatu). Ada lagi yang berpendapat bahwa ilmu itu lebih jelas daripada sekedar dikenal. Adapun yang kami maksudkan disini ialah ilmu syar’i yang Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi keterangan dan petunjuk, dan ilmu yang terpuji sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّ يْنِ
“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah baik, maka dimudahkan memahami Dienul Islam.” ( HR. Bukhari : 29).” (Kitabul Ilmi oleh Ibnu Utsaimin hal. 13)
            Adapun macam ilmu sebagaimana yang dikatakan oleh  al-Allamah ar-Raghib al-Ashafani ada dua: ilmunazhari (teori) dan amali (praktik). Maka ilmu nazhari bila sudah diketahui, itu sudah sempurna; seperti ilmu tentang wujudnya alam. Sedangkan ilmu amali, tidak diketahui dengan sempurna kecuali bila telah diamalkan; seperti amal ibadah. Adapun pembagian yang lain: ilmu ada yang aqli (bersumber dari akal, yang diperoleh dengan percobaan yang berulang-ulang) dan ada yang sam’i (bersumber dari wahyu Ilahi yang cepat diperoleh dengan pasti tanpa ada percobaan dan keraguan). (Lihat Mufradat al-Fadhil Qur’an: 580)
Syaikh Abdurrahman bin Sa’di rahimahullah berkata:
“Ilmu dibagi menjadi dua:
  1. Ilmu yang bermanfaat, yang dapat menjernihkan jiwa, mendidik akhlak yang mulia, dan memperbaiki aqidah, sehingga dapat menghasilkan amal yang shalih dan membuahkan kebaikan yang banyak. Ilmu ini adalah ilmu syari’at Islam dan penunjangnya, seperti bahasa Arab.
  2. Ilmu yang tidak mendidik akhlak, tidak memperbaiki amal, dan tidak memperbaiki aqidah. Ilmu ini dipelajari hanya untuk mencari faedah duniawi belaka, itulah ilmu yang di hasilkan oleh manusia dengan beraneka macam bentuknya. Jika ilmu ini di dasari dengan iman dan landasan Dienul Islam maka menjadilah Ilmu duniawiyyah diniyyah. Akan tetapi, bila tidak digunakan untuk membela agama Islam, ilmu itu hanya ilmu dunia belaka, tidak mulia, bahkan berakhir dengan kehinaan, dan boleh jadi akan merusak dirinya sendiri seperti  ilmu membuat senjata dan lainnya, dan boleh mereka sombong dan menghina ilmu wahyu yang diturunkan kepada para utusan Allah sebagaimana yang dijelaskan di dalam surat Ghafir (40): 83.” (al-Mu’in ‘ala Tahsili Adabil Ilmi wa Akhlaqil Muta’alimin oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di: 37, 38)
Dari keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa ilmu dibagi menjadi beberapa bagian. Ditinjau dari segi hakikat dan hukumnya ada dua: (1) Mengapa hakikat benda, (2) Mengetahui hukum adanya sesuatu dan tidak adanya. Jika ditinjau dari sumbernya  ada dua pula : (1) aqli, (2) sam’i. dan ditinjau dari faedahnya ada tiga : (1) ilmu yang pasti berfaedah ialah ilmu syari’at islam, (2) ilmu duniawi yang berlandaskan syari’at islam dan digunakan untuk khidmah islam maka bermanfaat pula, dan (3) ilmu duniawi yang dilandasi iman dan tidak dipergunakan untuk khidmah islam maka ilmu ini akan merusak dirinya. Mudah-mudahan keterangan ini menambah wawasan wali murid, dimana hendaknya mereka menyekolahkan anaknya.
HUKUM MENUNTUT ILMU
Setelah kita memahami makna lmu dan berbagai macam pembagiannya, perlu pula kita mengetahui hukummenuntutnya. Mempelajari hukum sesuatu sangatlah penting, karena berakibat baik atau buruk bagi setiap mukallaf yang melakukan perbuatan atau meninggalkannya. Menurut kami – Walahu a’lam- setelah menelaah beberapa kitab, maka dapat kami simpulkan hukum mempelajari ilmu sebagai berikut :
Menuntut Ilmu Syariat Islam
  1. Menuntut ilmu syar’i yang berkenaan dengan kewajiban menjalankan ibadah bagi setiap mukallaf –seperti tauhid– dan yang berhubungan dengan ibadah sehari-hari semisal wudhu, shalat, dan lainnya- maka hukumnya fardhu ain, karena syarat diterimanya ibadah harus ikhlas dan harus sesuai dengan sunnah,  tentunya cara memperolehnya disesuaikan dengan kemampuannya sebagaimana keterangan surat al-Baqarah : 286.
  2. Menuntut ilmu syar’i yang hukumnya fardhu kifayah; maksudnya bukan setiap orang muslim harus mengilmuinya, akan tetapi diwajibkan bagi ahlinya. Seperti membahas ilmu ushul dan furu’nya dan juga yang berkenaan dengan ijtihadiyah.
Karena pentingnya kewajiban menuntut ilmu dien, maka sampai dalam kondisi perangpun hendaknya ada yang tafaqquh fiddin.
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu peri semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara nereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk member peringatan kepada kaumnya apabia mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS at-Taubah : 122)
Menuntut Ilmu Duniawi
  1. Hukumnya tidaklah wajib ‘ain untuk setiap kaum muslimin, karena tidak ada dalil yang mewajibkannya, dan karena istilah ilmu di dalam nash al-Qur’an dan sunnah apabila muthlaq maka yang dimaksudkan adalah ilmu syari’at Islam, bukan ilmu duniawi.
  2. Kadang kala wajib kifayah pada saat tertentu, seperti ketika akan memasuki medan pertempuran dan lainnya.
Ibnu Utsaimin berkata: “Dapat kami simpulkan bahwa ilmu syar’i adalah ilmu yang terpuji, sungguh mulia bagi yang menuntutnya. Akan tetapi, saya tidak mengingkari ilmu lain yang berfaedah, namun ilmu selain syar’i ini berfaedah apabila memiliki dua hal: (1) jika membantu taat kepada Allah, dan (2) bila menolong agama Allah dan berfaedah bagi kaum muslimin. Bahkan kadangakala ilmu ini wajib dipelajari apabila masuk di dalam firman-Nya :
وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ …..(الانفال : 60 )
Artinya : “ dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang……” ( QS. Al-Anfal : 60 ). (Kitabul Ilmi oleh Ibnu Utsaimin h. 13-14)
3. Jika ilmu itu menuju kepada kejahatan maka haram menuntutnya.
Ibnu Utsaimin berkata: “Adapun ilmu selain syar’i boleh jadi sebagai washilah menuju kepada kebaikan atau jalan menuju kepada kejahatan, maka hukumnya sesuai dengan jalan yang menuju kepadanya.” (Kitabul Ilmi oleh Ibnu Utsaimin h. 14)
Tanggung Jawab Pendidikan Anak
Ketahuilah bahwa Allah menjadikan manusia pada umumnya lahir karena pernikahan laki-laki dengan perempuan, dan anak yang lahir dalam keadaan fithrah, bersih dari dosa. Anak ditakdirkan oleh Allah menjadi shalih atau maksiat karena pendidikan.
Ketahuilah bahwa sebelum anak bergaul dengan orang lain, terlebih dahulu bergaul dengan orang tuanya, karena Allah mengamanatkan pendidikan anak ini kepada kedua orang tuanya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api  neraka…(QS. at-Tahrim(66): 6)
Dan juga firman-Nya:
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat yang terdekat. (QS. asy-Syu’ara(26):214)
Disebutkan di dalam riwayat yang shahih bahwa tatkala turun ayat ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil sanak kerabat dan keluarganya, bahkan beliau naik ke bukit Shafa memanggil khalayaknya ramai agar masing-masing menyelamatkan dirinya dari api neraka.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
  مَامِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاّ يُوْلَدُ اْلفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنْصِّرَانِهِ وَيُمْجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ اْلبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحْسُّونَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ
“ Tidaklah seorang anak lahir melainkan dalam keadaan fithrah, maka kedua orang tualah yang menyudikannya, menasrikannnya, dan yang memajusikannya, sebagaimana bintang melahirkan anak yang selamat dari cacat, apakah kamu menganggap hidung, telinga, dan anggota binatang itu terpotong? ( HR. Muslim : 4803)
Dalil di atas menunjukkan bahwa yang bertanggung jawab dan yang paling utama atas pendidikan anak adalah orang tua, terutama pendidikan aqidah yang menyelamatkan manusia dari api neraka. Dan yang penting lagi, dalil di atas tidak menyinggung sedikitpun bahwa ilmu dunia lebih penting daripada ilmu Syari’at Islam. Dalil ini hendaknya menjadi pengangan orang tua pada saat menyekolahkan anaknya ketika dirinya berhalangan mendidiknya.
            Karena pentingnya pendidikan anak ini, sampai umur dewasa pun orang  tua hendaknya  tetap memperhatikan pendidikan anaknya, sebagaiaman yang dilakukan oleh Rasullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengetuk pintu rumah sahabat Ali bin Abu Tahlib radhiyallahu ‘anhu dan putrinya Fathimah. Sambil menanyakan sudahkah mereka berdua menunaikan shalat ?  HR. Bukhari : 109 bersumber dari sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu)
            Demikian juga para pengajar hendaknya memahami ajaran Islam yang benar sehingga tidak mengajarkan kepada anak didiknya ilmu duniawi yang merusak dien dan akhlak, karena semua tindakan akan dihisab pada hari kiamat.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
     كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
“Kalian semua adalah pemipin, dan masing-masig bertanggung jawab atasa yang dipimpin. “ ( HR. Bukhari : 844)
KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU DIENUL ISLAM
            Menuntut ilmu syar’i tidaklah sama dengan menuntut ilmu duniawi, karena ilmu syar’i bersumber dari wahyu Ilahi, pasti benar dan bermanfaat, baik di dunia atau di akhirat kelak. Ilmu Islam bagaikan pelita yang menerangi ahlinya untuk membedakan yang  haq dan yang batil, yang sunnah dan yang bid’ah dan pengantar menuju ke surga. Berbeda dengan ilmu hasil pikir manusia, belum tentu membawa kebahagiaan hidup.
            Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan keutamaan menuntut ilmu Dineul Islam sebagai berikut :
  1. Ilmu dien adalah wariasan para Nabi. Mereka tidaklah mewariskan kepada umat melainkan ilmu wahyu Allah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud : 3157.
  2. Ilmu dien itu kekal, tidak musnah, akan mengikuti ahlinya sampai meninggal dunia, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : 3084
  3. Ilmu dien itu tidak sulit menjaganya, karena tempatnya di hati, tidak membutuhkan peti atau kunci, bahkan ilmunya itu  yang menjaga dirinya, berbeda dengan harta benda, pemiliknya harus menjaganya.
  4. Ahli ilmu dien memperoleh syuhada di atas yang haq, lihat surat Ali Imran (3) : 18.
  5. Ahli ilmi dien termasuk waliyul amri  yang wajib ditaati, lihat surat An-Nisa (4) : 59.
  6. Ahli ilmu dien penegak kebenaran sampai hari kiamat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
  وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ اْلأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللهِ لاَيَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ الله
“  Dan senantisa umat ini penegak hukum Allah, tidaklah membahayakan kepada mereka orang yang menyelisihmu sampai dating keputusan Allah pada hari kiamat:” ( HR. Bukhari : 69  bersumber dari sahabat Muawiyah radhiyallahu ‘anhu.)
7. Ahli ilmu dien diangkat derajatnya oleh  Allah Q.S Al-Mujadilah 58 : 11 (Kitabul Ilmi oleh Ibnu Utsaiman hal. 18-22).
Keutamaan menuntut ilmu syar’i sengaja kami bahas, agar orang tua tidak ragu lagi menyekolahkan anaknya kepada pesantren salafi yang dikelola sedemikian rupa kurikulumnya dan diseleksi pengajarnya, dengan biaya yang bisa dijangkau, insya Allah akan mengantarkan anak menjadi ahli ibadah kepada Allah, birrul walidain (berbakti kepada orang tua ), dan  menjadi da’i pembela kebenaran –bi idznillah– yang  kelak orang tua akan memetik pahalanya walaupun telah meninggal dunia.
BAHAYA PENDIDIKAN SEKULER
        Yang  dimaksud pendidikan sekuler ialah pendidikan yang tidak memperhatikan ilmu  dinul Islam, atau tidak berasaskan Islam.
Adapun bahayanya banyak sekali, bahaya pengajarnya, materinya, dan pergaulannya.
Bahaya pengajar. Pada umumnya pengajarnya tidak mengenal aqidah  yang benar, atau bodoh terhadap ajaran Islam, dan boleh jadi mereka orang kafir atau musyrik atau orang yang memusuhi Islam: itu semua karena latar belakang pendidikan mereka sebelumnya.
Perhatikan dosen yang mengajarnya diperguruan tinggi Agama Islam dan lainnya. Tentu hal ini akan berbahaya bila menuntut ilmu tidak memiliki aqidah dan syari’at Islam yang benar. Penuntut ilmu ( mahasiswa) yang memiliki pengetahuan yang haq pun segan menegur kesalahan pengajarnya karena kawatir tidak lulus. Adapun siswa yang kuat imannya, tentu tidaklah betah bergaul dengan mereka karena Allah. menamakan iman di hati mereka. Lihat surat al-Hujurat (49) :7.
Bahaya materinya. Boleh jadi materi yang diajarkan termasuk perkara yang dilarang menurut ajaran Islam karena berkenan dengan aqidah dan akhlaq, atau membahayakan jasmani dan rohaninya. Maka siswa yang tidak mengenal ajaran Islam yang kaffah tentu sulit untuk menghukumi materi boleh dipelajari atau tidak.
Bahaya pergaulan. Biasanya, pendidikan umum tidak memperhatikan pergaulan siswa dan siswinya, mereka  bercampur menjadi satu  tanpa ada hijab yang menghadapinya, bahkan pengajarnya campur laki-laki dan wanita. Padahal melihat wanita yang bukan mahramnya hukumnya haram (lihat surat an-Nur 24:30-31), apalagi  bergaul bebas bertatap muka, sentuh-menyentuh, berkhalawat, dan berpergian tanpa maharam. Tentu dosanya lebih besar daripada manfaat ilmu yang diperolehnya. Perhatikan  sekolah kedokteran dan perkuliahan di jurusan lainnya ; zina mata, telinga, mulut, tangan, dan kaki, setiap hari menjemputnya. Siapakah yang bertanggung jawab bila musibah telah menimpa? Siapakah yang bertanggung jawab di akhiratnya?
Adapun bahaya lain, mereka akan meninggalkan menuntut ilmu Dienul Islam dan ibadah kepada Allah swt karena mereka sibuk dengan ilmu duniawainya. Bahkan, boleh jadi akan memerangi Islam dan ulamaya.
SYUBHAT DAN BANTAHAN
Diantara syubhat (keraguan-keraguan, red) yang tersebar di kalangan masyarakat, mereka menyekolahkan anak ke sekolah umum dan melalaikan pendidikan aqidah shahihah sebagai berikut :
1.      Mengikuti orang-orang pada umumnya
Jiwa orang  awam seperti terkena virus, kaidah mereka “yang ditiru banyak  orang itulah yang baik”. Jika anak masuk sekolah umum maka tidaklah dinamakan bersekolah, itulah aqidah mereka. Oleh karena itu, mereka berebut suapaya anaknya diterima di sekolah negeri atau sekolah swasta yang berstatus disamakan-minimalnya yang diakui. Padahal prinsip “umumnya” tidak menjamin baik, dan itulah kenyataannya.
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِى اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ ….
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. ( Q.S Al-An’am :6: 116).
2. Khawatir tidak dapat pekerjaan
Seharusnya orang Islam khawatir apabila dia dan anaknya tidak bisa menunut ilmu Dienul Islam nikmat ini tidak semua orang meraihnya; berbeda dengan kenikmatan berupa rezeki, semua hamba-Nya- yang beriman ataupun kafir-dijamin pasti menerimanya (lihat surat Hud: 6), apalagi mereka mau menunutut ilmu Dien dan bertaqwa, nisaya Allah swt. Membuka rezekinya dari langit dan bumi (lihat surat al-Ara’f : 96) dan niscaya Allah mengangkat derajatnya (lihat surat al-Mujadilah:11).
3. Orang Islam harus kaya
Prinsip “orang Islam harus kaya” bukanlah tujuan hidup yang orang yang beriman, akan tetapi prinsipnya orang kafir. Tujuan hidup yang benar adalah beribadah kepada Allah  (lihat surat adz-Dzariyat: 56). Agama Islam tidak melarang orang menjadi kaya, akan tetapi meninggalkan pendidikan Islam untuk mencari kekayaan adalah merusak aqidah dan moral (lihat surat at-Takatsur:1, dan Al-Humazah: 1-2). Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak khawatir apabila umatnya miskin, akan tetapi khwatir bila umatnya kaya.
Dari Abu Ubaidah Rasulullah shallallahu ‘laihiwa sallam bersabda :
فَوَاللهِ لاَاْلفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ عَلَيْكُمْ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تنَاَفَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهَمْ.
“ Maka demi Allah tidaklah aku khawati bila kamu itu  fakir, akan tetapi aku khawatir bila kamu dilapangkan urusan duniawimu sebagaimana orang sebelumu, lalu kamu berlomba-lomba mengejarnya seperti mereka, lalu kamu hancur seperti mereka.” (HR.Bukhari : 2924, Muslim : 5261).
4.      Kemunduruan kaum muslimin karena faktor ekonomi
Kami tidak mengingkari bahwa ekonomi penunjang kekuatan kaum muslimin sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Anfal: 60. Akan tetapi, semata-mata mengejar urusan dunia tanpa dilandasi aqidah yang benar, tidaklah memakmuran Islam, justru sebaliknya. Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kehancuran kaum muslimin karena umatnya ambisi dunia, bukan karena mengejar ilmu Sunnah.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذاَ تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ اْلبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلىَ دِيْنَكُمْ
“ Apabila kamu  senang jual beli dengan system ‘inah (membeli secara kredit lalu dijual tunai kepada penjual dengan harga lebih murah) dan kamu sibuk dengan memegang ekor sapimu dan kamu lebih menyukai kebunmu, dan kamu tinggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan pada dirimu, Allah tidak mencabut kehinaan ini sehingga kamu berpegang kepada Agamamu”. (HR. Abu  Dawud : 3003, lihat ash-Shahihah: 11)
            Hadits ini menjawab syubhat hizbinya dan harakiyyin yang punya prinsip di atas, mereka ingin mengajak umat untuk meraih ‘izzah, tetapi dengan cara menghinakan umat.
Para pengajar hendaknya memahami Islam dengan benar sehingga tidak mengajarkan kepada anak didiknya ilmu  yang merusak dien dan akhlak, ingatlah semua tindakan akan dihisab pada hari kiamat!
Akhirnya, semoga kita semua senantiasa mendapat perlindungan dan hidayah-Nya.
AL- FURQON edisi 1 tahun 6 (Sya’ban 1427)
Previous
Next Post »